Monthly Archives: February 2010

Matahari, Sore, dan Kehilangan.

Sore ini, ketika saya melangkah keluar dari pintu belakang rumah untuk mencuci piring, cuaca sangat indah. Saya sebenarnya sangat lelah (secara batiniah). Energi saya terkuras habis, dan saya tidak tahu emosi apa yang saya rasakan. Yang saya tahu adalah saya lelah. Matahari bersinar sedikit menyilaukan, tapi tidak menyakitkan. Persis seperti cuaca-cuaca sore yang saya sukai di ingatan masa kecil saya. Cuaca yang sangat inspiratif. Tiba-tiba saja saya merasa lebih tenang. Sambil mencuci piring, saya tak henti memikirkan kejadian hari ini dan saat itu juga saya memutuskan untuk membuat satu postingan lagi malam ini.

***

sun

15 Januari 2010

Foto yang saya sisipkan di atas bukan foto matahari sore ini (8 Februari 2010), tetapi matahari pada tanggal 15 Januari 2010. Ada yang ingat apa yang terjadi di tanggal itu?

Gerhana matahari yang bisa dilihat di wilayah timur Indonesia, pada pukul 15.30.

Ayah saya bilang gerhana tersebut juga bisa dilihat dari sini. Karena penasaran, saya pun mengambil gambar matahari sore itu (pukul 15.00). Cuaca sore pada hari itu juga sebenarnya sangat aneh. Cuaca tidak mendung, tidak ada awan, dan matahari sebenarnya bersinar, tetapi langit redup. Apapun itu, menurut saya matahari ketika itu sangat indah dan berbeda, jadi saya cantumkan saja gambarnya di sini.

Anyway, that was intermezzo. The thing is… today i learn something about losing something.

Jadi, pagi ini… sekitar pukul 10.oo, saya mencari handphone saya di seluruh penjuru rumah. Satu-satunya hal yang saya ingat adalah pukul 16.00 sehari sebelumnya, adalah kali terakhir saya memegang handphone tersebut untuk melihat-lihat foto dan video. Saya meletakkanya di kamar adik bungsu saya. Lalu baru terpikir untuk mengambilnya keesokan harinya (hari ini) pada pukul sepuluh pagi. Tapi ternyata saya tidak menemukannya dimana-mana.

Saya tidak panik. Saya tahu saya lemah dalam mencari, jadi saya putuskan untuk mencari pelan-pelan dengan pemikiran bahwa saya pasti akan menemukan handphone saya. Tetapi setelah berjam-jam mencari dan membongkar seisi rumah, saya mulai gusar juga. Apalagi faktanya kemarin arisan keluarga baru diadakan di rumah yang berarti memperbesar kemungkinan bahwa di tengah suasana yang ramai, seseorang yang tidak bertanggung jawab telah memanfaatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan. Saya tidak bisa percaya itu. Dan lebih penting lagi, sesuatu dalam diri saya mengatakan bahwa handphone itu ada di rumah ini, tidak dicuri.

Lalu satu demi satu orang-orang di rumah bermunculan, ikut mencari, panik, menggeram, berpikir keras, berusaha menenangkan saya, berspekulasi, mencurigai, tapi tetap tidak berhasil menemukan barang yang dicari. Di tengah-tengah kegusaran, emosi yang lebih dalam muncul: ternyata saya merasa sedih dan kehilangan.

Handphone itu sudah menemani saya selama satu tahun. Bukan waktu yang lama dibandingkan handphone terdahulu yang telah menemani saya selama enam tahun. Tetapi handphone ini sudah menemani saya di banyak saat-saat penting, dan yang lebih penting lagi, handphone ini adalah pemberian Pakde saya. Saya kemudian tersadar betapa dalam beberapa waktu terakhir saya seringkali tidak menaruh perhatian pada handphone itu. Memang hal ini juga didukung karena saat ini saya sedang tidak terlalu sering berhubungan dengan teman-teman saya. Saya jarang menggunakan handphone terkecuali untuk menerima telepon dan membalas sms. Sedangkan untuk memulai percakapan duluan jarang saya lakukan kecuali jika memang ada hal yang benar-benar penting. Tapi entah kenapa emosi ini sangat kuat. Emosi yang sesungguhnya tidak saya sangka-sangka. Saya seperti tersadar bahwa seringkali saya lupa mensyukuri apa yang sudah ada pada saya, dan tidak menyadari betapa pentingnya hal itu sebelum saya mengalami kehilangan (yeah, i know how cliche it was…).

Lalu, cuaca sore menghangatkan saya.

Emosi saya yang campur baur tercairkan. Masih penuh tanda tanya, tetapi setidaknya jiwa saya sedikit tenang. Saya pikir, sudahlah. Saya selalu percaya teori tentang rejeki. Sebaiknya saya akhiri saja segala pemikiran ini. Sudah saatnya saya kehilangan, mungkin. Saya putuskan untuk bersyukur karena masih mendapat teguran. Saya berusaha berkaca dan melihat ke dalam diri saya. Saya harus bisa belajar dari ini.

Lalu, di tengah-tengah semua  itu, datanglah sang pembawa berita:

“Lin, Kak Reri sms. Kata Caca, HP elin disembunyiin Agil di deket baju-baju di kamar nenek…”

You know what, I think this was one of the most hilarious day in my life…

Weekend Updates (really?)

Terinspirasi, postingan di blog seorang kawan, maka saya akan melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan. Bedanya, tulisan berikut mungkin lebih tepat disebut status updating dibandingkan ‘random thoughts’ seperti judul postingan kawan saya tersebut.

  • Hari ini, saya dan adik-adik menonton sebuah tayangan kuliner di sebuah televisi swasta dan kami inggiiinnn sekali memasak hari ini. Tapi berhubung, kondisi keuangan kami bertiga sedang tidak mendukung, kami tidak bisa belanja. Jadi, keinginan memasak tersebut hanya bisa menjadi sebatas angan-angan saja…. (sedihnyaaa…)
  • Saya ingin sekali menonton The Hurt Locker, An Education, A Serious Man, The Hangover, Up In The Air, Precious, The Blind Side, The Damned United, dan Avatar (untuk yang kelima kalinya). Huaaahhhh…..
  • Semakin hari Si BuYa semakin bikin orang-orang geregetttaannnnn….. setuju??? Saya geregetan banget soalnya…
  • Nibras, keponakan saya sudah bisa menghapal 7 abjad (a b c d e f g).
  • Semua orang kok punya pacar kecuali saya ya? (LOL to myself)

By the way, sebenarnya ada tidak ya orang yang membaca blog saya. Saya kok curiga tidak ada… (LOL to myself, again)

ngeng

Nibras calls them "ngengeng"

Life After Harry Potter

dh

Our Indonesia Version of Deathy Hallows

2010.

Tahun ini, tepatnya di akhir tahun, Harry Potter and The Deathly Hallows Part 1 akan tayang di layar bioskop. 8 bulan kemudian, Part 2 menyusul. Which means… the end…

Berakhirnya seri film Harry Potter sudah lama menjadi sorotan para jurnalis. Hal-hal tentang karir para aktor muda di

dvd-cover

My Original Half-Blood Prince Two Disc Special Edition

film ini dan apa yang kira-kira akan mereka rasakan ketika film ini berakhir sudah sering dibahas di berbagai media. Lalu, bagaimana dengan kami, para fans? Termasuk… saya, tentunya. Walaupun saya bisa dikatakan sebagai ‘penggemar muda’ karena baru tertarik pada seri ini sejak awal 2007 (yeah, I know that was outrageous!), tapi tidak berarti rasa kehilangan saya akan lebih sedikit dibandingkan para fans yang sudah lebih tua.

Harry Potter tidak dipungkiri, sudah mengubah hidup banyak orang, termasuk saya. Berkat Harry Potter juga saya mulai menyadari ketertarikan saya terhadap film. Saya belajar banyak hal, juga mendapat banyak inspirasi.

Apalagi ya yang akan saya tunggu-tunggu setiap harinya setelah tanggal 15 Juli 2011? It’s gonna be very emotional day… Hikhik…. ;p

True Love’s Kiss

I’ve been dreaming of a true love’s kiss…

and a prince I’m hoping comes with this…

that’s what brings ever-aftering so happy….

Have u seen Enchanted? It’s not just another fairy tale story…  It was a great movie… Does everyone agree? Well, saya tidak akan mereview Enchanted di sini. Kalau ingin melihat review-review film saya, silakan kunjungi blog saya yang satunya. Saya hanya ingin membagi pengalaman saya tentang salah satu lagu yang menjadi soundtrack film musikal ini, True Love’s Kiss, yang dibawakan oleh Amy Adams dan James Marsden dengan sangat cantik.

Lagu ini seharusnya menjadi lagu yang ceria. Tapi pertama kali saya mendengarnya, saya justru merasa sedih dan rapuh.

Percayakah Anda bahwa pengalaman menikmati karya seni memiliki dampak yang sangat berbeda bagi setiap orang? Walaupun karya seni tersebut terkesan akan memiliki dampak yang universal? Misalnya seperti lagu Enchanted yang ceria ini, seharusnya setiap orang yang mendengar lagu ini paling tidak akan tersenyum geli, tetapi nyatanya ada orang-orang tertentu yang menampilkan respon yang berbeda. Tentu Anda sudah bisa menebak apa yang kira-kira menyebabkan respon yang muncul tersebut berbeda. Pengalaman.

Pengalaman saya menyebabkan saya menikmati dan menghayati lagu ini dengan cara yang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Don’t get me wrong. Tentu saja saya sangat menyukai lagu yang lucu ini. Lagu ini akan selalu mengingatkan saya pada performa Amy Adams yang sangat meyakinkan sebagai seorang stranded princess di sebuah negeri yang tidak ia kenal. Tapi di sisi lain, saya merasa lirik lagu ini mengingatkan saya pada hal-hal yang pernah saya miliki dulu (yang saat ini tentunya sudah tidak saya miliki lagi) dan betapa besar dan berharganya hal itu bagi saya.

Lagu ini juga seolah-olah memberikan sindiran bagi saya yang selama selang waktu yang cukup panjang berpikiran tidak terlalu membutuhkan seseorang dalam hubungan yang lebih spesial. Lagu ini seperti menertawakan saya, mengingatkan saya bahwa seperti apa pun hidup yang dijalani manusia, akan selalu melewati bagian-bagian klise, seperti disimbolkan oleh ‘true love’s kiss’ yang diidam-idamkan oleh para putri di negeri far-far-away-nya.

Saya seolah tersadar, betapa sepinya hidup saya selama ini, betapa bohongnya, dan betapa sayangnya… (…) Well, pengalaman ketika menghayati lagu True Love’s Kiss itu adalah salah satu pengalaman yang sangat pedih buat saya. Mungkin tidak terbayangkan bagi Anda, tapi seperti yang saya katakan tadi, it’s all about our personal experience.

Secara keseluruhan, tidak hanya lagu ini saja, tetapi film Enchanted ini sebenarnya benar-benar mengguncang saya.

Storybook endings, fairy tales coming true
Deep down inside we want to believe they still do
In our secretest heart, it’s our favourite part of the story
Let’s just admit we all want to make it too

Ever Ever After, by Carrie Underwood – OST. Enchanted

Have u seen the film? Go see it if u haven’t…

snowwhitekiss

Snow White Kiss

Kenapa Sulit Bagi Saya Membina Hubungan Baik?

Mungkinkah kesulitan saya dalam membina hubungan pertemanan dipengaruhi oleh sifat saya yang terlalu sensitif? Ya, but that’s another point i guess… Sensitif atau tidak pun, saya selalu menjadi orang yang sering bermalas-malasan untuk menjaga tali silaturahmi. Bahkan dengan teman-teman dekat saya sendiri.

Sifat jelek yang sangat sulit untuk dihilangkan.

Mengenai istilah ‘sensitif’ yang saya gunakan pada kalimat pertama. Ada beberapa hal yang mungkin saya perlu jelaskan. Ya, saya sensitif. Pertama, saya memang bukan orang yang ekstrovert. Dengan kata lain, saya cenderung pendiam, tidak terlalu suka bergaul, sulit membuka pembicaraan, dan lain sebagainya. Namun, ketika berteman, hubungan saya cenderung mendalam. Dan hubungan pertemanan yang mendalam itu membawa saya pada keseriusan dan perhatian yang cukup besar dalam menjalaninya. Dalam hal ini, keseriusan dan perhatian yang besar itu saya curahkan dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang ada dalam benak saya, mengenai diri saya, mengenai teman saya, dan mengenai hubungan pertemanan yang sedang saya jalani ini. Saya tekankan bahwa hubungan ini murni adalah hubungan pertemanan, bukan hubungan yang dilandasi romantic feeling atau komitmen.

Nah, aplikasi dari ‘pemikiran yang terlalalu mendalam’ itu adalah refleksi yang terlalu besar pada diri sendiri ketika sesuatu yang ‘tidak beres’ terjadi dalam hubungan pertemanan atau individu yang menjalani hubungan pertemanan tersebut. Saya menjadi orang yang terlalu ‘pemikir’ dan ‘memikirkan’. Dan hal seperti itu sebenarnya sangat melelahkan bagi saya…

ron-har-herm

Ron, Harry, Hermione = sahabat sejati

Nah, saya tidak tahu apakah kedua hal ini berkaitan atau tidak. Tetapi di sisi lain, saya juga cenderung sulit untuk menjalin hubungan pertemanan yang sudah terjalin dengan baik, terutama ketika jarak menjadi faktor yang menjadi penghalang. Contohnya saja, saya sebenarnya jarang menghubungi teman-teman yang berjauhan jarak dengan saya. Kadang agak malas dan telat membalas SMS, tidak terlalu sering menggunakan situs jejaring sosial untuk sekedar berbasa-basi, apalagi menelpon…

Sudah banyak yang mengeluhkan kemalasan saya itu, termasuk sahabat-sahabat saya. Saya juga seringkali merasa takjub terhadap diri saya sendiri. Apa sebenarnya yang menjadi penghambat saya? Berkaitan dengan isu ‘sensitif’ itu kah? Kalo ya, saya sebagai individunya kok agak kesulitan menemukan kaitannya?

Saya menjadi terkesan sombong-lah, jahat-lah. Padahal tidak ada hubungannya dengan hal-hal itu. Saya justru diam-diam memperhatikan masing-masing teman-teman saya lewat akun-akun jejaring sosial mereka. Merasa kesepian dan terisolasi sendiri, dan diam-diam iri melihat kedekatan mereka dengan teman-teman yang lain. Saya curiga… jangan-jangan saya mengidap penyakit psikologis yang belum diketahui apa namanya. Hihihi…

Ah, sudahlah. Toh saya juga tidak benar-benar kehilangan mereka. Kadang-kadang kelakuan saya juga tidak sampai separah itu kok. Bukan berarti saya benar-benar mengisolasi diri saya. Dan selain itu, sebenarnya bagi saya sebenarnya hubungan pertemanan itu adalah kenangan dan perasaan. Ketika di dalam hati saya saya masih mengenang mereka sebagai teman-teman yang saya sayangi, maka kami masih bersahabat… Begitulah…

What a total trash….

Apakah Bella sedang dalam masalah besar karena mencintai dua laki-laki pada waktu yang sama?

bella

mouth-half-open

Bella, apa kau punya masalah?

Ya, saya sering mendapat sial. Jatuh cinta pada vampir, lalu manusia serigala. Saya juga berkali-kali hampir mati karena ada vampir maniak mengejar saya. Yang paling sial adalah: saya ternyata sangat ingin menjadi vampir!!!

Bella, kamu memang dalam masalah. Tapi ada beberapa hal yang kamu buat-buat sendiri menjadi masalah. Kamu pikir kamu cinta Edward dan Jacob? Kamu-salah. Kamu terobsesi pada Edward dan kamu terlalu egois untuk melepaskan Jacob karena kamu terlalu melodramatis dan mendramatisasi situasi dengan berlebihan.

Kamu bilang kamu jatuh cinta setengah mati dengan Edward, tapi dengan pembelaan diri yang sangat tangguh kamu tiba-tiba seoalah tersadar: “ternyata aku juga cinta Jacob!”. Darimana kamu tahu kamu cinta Jacob? Dan bagaimana? Dan kenapa kamu tidak menyadarinya dari dulu, dan baru sadar sekarang? Apakah kamu ingin bilang karena Jacob selalu bersama-sama denganmu dan melindungimu?

Maaf Bella, tapi kamu klise sekali. Dan bisa-bisanya kamu akhirnya mengakui perasaanmu pada Jacob. Egois sekali… Kamu tidak benar-benar mencintai Jacob. Tidak mungkin hal itu bisa terjadi ketika seperti yang kamu bilang berulang-ulang, hatimu sudah kosong dan hancur karena Edward sudah merampas segalanya dari kamu dengan kepergiannya. Kamu berlebihan, Bella. Lalu kamu seolah-olah berada di neraka akan situasi ini. Mencintai dua laki-laki. Keduanya sama-sama istimewa… Wah, wah, wah… Atau jangan-jangan kamu tidak sungguh-sungguh mencintai Edward? Tapi kamu kan hampir mati karena dia ya? Jadi tidak mungkin kamu tidak benar-benar cinta dia…

Bagaimana mungkin kamu bisa bingung, Bella… Kamu membingung-bingungkan diri kamu sendiri. Semua orang juga tahu bahwa Edward-lah yang akan kamu pilih. Jadi kenapa harus memberi harapan pada Jacob?

Dasar Bella goblok…

jac-bel-edw

blah blah blah