Kenapa Sulit Bagi Saya Membina Hubungan Baik?

Mungkinkah kesulitan saya dalam membina hubungan pertemanan dipengaruhi oleh sifat saya yang terlalu sensitif? Ya, but that’s another point i guess… Sensitif atau tidak pun, saya selalu menjadi orang yang sering bermalas-malasan untuk menjaga tali silaturahmi. Bahkan dengan teman-teman dekat saya sendiri.

Sifat jelek yang sangat sulit untuk dihilangkan.

Mengenai istilah ‘sensitif’ yang saya gunakan pada kalimat pertama. Ada beberapa hal yang mungkin saya perlu jelaskan. Ya, saya sensitif. Pertama, saya memang bukan orang yang ekstrovert. Dengan kata lain, saya cenderung pendiam, tidak terlalu suka bergaul, sulit membuka pembicaraan, dan lain sebagainya. Namun, ketika berteman, hubungan saya cenderung mendalam. Dan hubungan pertemanan yang mendalam itu membawa saya pada keseriusan dan perhatian yang cukup besar dalam menjalaninya. Dalam hal ini, keseriusan dan perhatian yang besar itu saya curahkan dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang ada dalam benak saya, mengenai diri saya, mengenai teman saya, dan mengenai hubungan pertemanan yang sedang saya jalani ini. Saya tekankan bahwa hubungan ini murni adalah hubungan pertemanan, bukan hubungan yang dilandasi romantic feeling atau komitmen.

Nah, aplikasi dari ‘pemikiran yang terlalalu mendalam’ itu adalah refleksi yang terlalu besar pada diri sendiri ketika sesuatu yang ‘tidak beres’ terjadi dalam hubungan pertemanan atau individu yang menjalani hubungan pertemanan tersebut. Saya menjadi orang yang terlalu ‘pemikir’ dan ‘memikirkan’. Dan hal seperti itu sebenarnya sangat melelahkan bagi saya…

ron-har-herm

Ron, Harry, Hermione = sahabat sejati

Nah, saya tidak tahu apakah kedua hal ini berkaitan atau tidak. Tetapi di sisi lain, saya juga cenderung sulit untuk menjalin hubungan pertemanan yang sudah terjalin dengan baik, terutama ketika jarak menjadi faktor yang menjadi penghalang. Contohnya saja, saya sebenarnya jarang menghubungi teman-teman yang berjauhan jarak dengan saya. Kadang agak malas dan telat membalas SMS, tidak terlalu sering menggunakan situs jejaring sosial untuk sekedar berbasa-basi, apalagi menelpon…

Sudah banyak yang mengeluhkan kemalasan saya itu, termasuk sahabat-sahabat saya. Saya juga seringkali merasa takjub terhadap diri saya sendiri. Apa sebenarnya yang menjadi penghambat saya? Berkaitan dengan isu ‘sensitif’ itu kah? Kalo ya, saya sebagai individunya kok agak kesulitan menemukan kaitannya?

Saya menjadi terkesan sombong-lah, jahat-lah. Padahal tidak ada hubungannya dengan hal-hal itu. Saya justru diam-diam memperhatikan masing-masing teman-teman saya lewat akun-akun jejaring sosial mereka. Merasa kesepian dan terisolasi sendiri, dan diam-diam iri melihat kedekatan mereka dengan teman-teman yang lain. Saya curiga… jangan-jangan saya mengidap penyakit psikologis yang belum diketahui apa namanya. Hihihi…

Ah, sudahlah. Toh saya juga tidak benar-benar kehilangan mereka. Kadang-kadang kelakuan saya juga tidak sampai separah itu kok. Bukan berarti saya benar-benar mengisolasi diri saya. Dan selain itu, sebenarnya bagi saya sebenarnya hubungan pertemanan itu adalah kenangan dan perasaan. Ketika di dalam hati saya saya masih mengenang mereka sebagai teman-teman yang saya sayangi, maka kami masih bersahabat… Begitulah…

What a total trash….

Advertisements

About elinmeilinda

Born in Bandar Lampung, love my family very much. A thinker. Love to write...

Posted on February 5, 2010, in my babble. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: