Category Archives: my babble

If You Don’t Mind…

Sedang ingin bercerita…

Tentang sebuah hari yang sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ketika perubahan besar terjadi. Perubahan yang tidak semua orang mengetahuinya

Saya datang ke kantor, bertemu rekan-rekan saya, bertemu murid-murid saya, mengerjakan apa yang menjadi tugas saya. Berjalan kesana dan kemari. Terkadang berlari. Mungkin pemandangan yang biasa bagi mereka.

Saya merasa sibuk hari ini, dan saya bersyukur. Saya memang ingin menyibukkan diri. Saya tidak ingin ada jeda waktu. Saya tidak ingin ada kesempatan bagi saya untuk berpikir. Saya lelah dengan pemikiran saya. Saya lelah dengan kenyataan. Saya lelah menghadapi kenyataan sulit yang juga saya persulit. Saya lelah. Sebab semua pilihan terasa salah. Sebab tidak ada yang benar. Dan saya harus melangkah.

Hari ini saya berbicara dengan murid-murid saya. Seperti biasa, pengalaman yang selalu menyenangkan-berbicara dengan mereka. Mungkin merekalah salah satu dari hal-hal yang benar itu. Yang tidak akan pernah salah… Mereka yang membutuhkan saya dan menghargai keberadaan saya. Yang penuh kemurnian, apapun keonaran yang mereka perbuat.

Hari ini sungguh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Tapi tidak ada yang tahu perbedaan tersebut, kecuali saya, dan… sedikit orang tentunya.

Ketika berbicara tentang cinta, siapa yang harus disalahkan? Pertemuan? Interaksi? Kebersamaan? Saya sungguh lelah…

Advertisements

Hari Ini Cerah

Hari ini cerah.

dan aku hanya bicara tentang cuaca.

bukan yang lain.

hari ini cerah.

Defining Loneliness

Apa yang dimaksud dengan merasa sepi?

Apakah ketika Anda sadar bahwa tidak ada orang yang memikirkan Anda ketika Anda sedang merasa khawatir dengan semua orang?

Apakah ketika Anda ingin melakukan banyak hal tetapi pikiran Anda memaksa Anda untuk berhenti dan memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya Anda pikirkan?

Apakah ketika Anda merasa merindukan sesuatu yang Anda sendiri tidak tahu bagaimana tepatnya bentuk hal yang dirindukan itu?

Apakah ketika Anda merasa punya banyak hal untuk diungkapkan tetapi tidak bisa menemukan orang/media yang tepat untuk menumpahkannya?

Apakah ketika Anda kehabisan energi setelah semalaman berpikir tentang hal-hal yang tidak akan sanggup Anda jangkau dengan pikiran Anda?

Apakah ketika Anda tahu dengan jelas tentang apa yang benar-benar Anda inginkan dan bahwa Anda tidak akan pernah bisa mendapatkannya?

Apakah ketika Anda terjaga dengan pikiran kosong dan mata menerawang lalu kemudian perlahan-lahan Anda tertidur dengan suara-suara masih bergaung dalam otak Anda?

Apakah ketika Anda berusaha keras meyakinkan diri Anda untuk tidak menangis sementara Anda sadar ada banyak hal yang sebenarnya ingin Anda ditangisi?

Apakah ketika Anda sadar Anda harus tetap bersyukur dan menjalani kehidupan Anda tetapi Anda tahu bahwa ada sesuatu yang (memang) hilang?

…………….

Meilinda Rosa Dhaniar, July 2010

P. S : Don’t worry, my life is not that horrible…. Only sometimes, like everyone does…

Life After Harry Potter

dh

Our Indonesia Version of Deathy Hallows

2010.

Tahun ini, tepatnya di akhir tahun, Harry Potter and The Deathly Hallows Part 1 akan tayang di layar bioskop. 8 bulan kemudian, Part 2 menyusul. Which means… the end…

Berakhirnya seri film Harry Potter sudah lama menjadi sorotan para jurnalis. Hal-hal tentang karir para aktor muda di

dvd-cover

My Original Half-Blood Prince Two Disc Special Edition

film ini dan apa yang kira-kira akan mereka rasakan ketika film ini berakhir sudah sering dibahas di berbagai media. Lalu, bagaimana dengan kami, para fans? Termasuk… saya, tentunya. Walaupun saya bisa dikatakan sebagai ‘penggemar muda’ karena baru tertarik pada seri ini sejak awal 2007 (yeah, I know that was outrageous!), tapi tidak berarti rasa kehilangan saya akan lebih sedikit dibandingkan para fans yang sudah lebih tua.

Harry Potter tidak dipungkiri, sudah mengubah hidup banyak orang, termasuk saya. Berkat Harry Potter juga saya mulai menyadari ketertarikan saya terhadap film. Saya belajar banyak hal, juga mendapat banyak inspirasi.

Apalagi ya yang akan saya tunggu-tunggu setiap harinya setelah tanggal 15 Juli 2011? It’s gonna be very emotional day… Hikhik…. ;p

Kenapa Sulit Bagi Saya Membina Hubungan Baik?

Mungkinkah kesulitan saya dalam membina hubungan pertemanan dipengaruhi oleh sifat saya yang terlalu sensitif? Ya, but that’s another point i guess… Sensitif atau tidak pun, saya selalu menjadi orang yang sering bermalas-malasan untuk menjaga tali silaturahmi. Bahkan dengan teman-teman dekat saya sendiri.

Sifat jelek yang sangat sulit untuk dihilangkan.

Mengenai istilah ‘sensitif’ yang saya gunakan pada kalimat pertama. Ada beberapa hal yang mungkin saya perlu jelaskan. Ya, saya sensitif. Pertama, saya memang bukan orang yang ekstrovert. Dengan kata lain, saya cenderung pendiam, tidak terlalu suka bergaul, sulit membuka pembicaraan, dan lain sebagainya. Namun, ketika berteman, hubungan saya cenderung mendalam. Dan hubungan pertemanan yang mendalam itu membawa saya pada keseriusan dan perhatian yang cukup besar dalam menjalaninya. Dalam hal ini, keseriusan dan perhatian yang besar itu saya curahkan dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang ada dalam benak saya, mengenai diri saya, mengenai teman saya, dan mengenai hubungan pertemanan yang sedang saya jalani ini. Saya tekankan bahwa hubungan ini murni adalah hubungan pertemanan, bukan hubungan yang dilandasi romantic feeling atau komitmen.

Nah, aplikasi dari ‘pemikiran yang terlalalu mendalam’ itu adalah refleksi yang terlalu besar pada diri sendiri ketika sesuatu yang ‘tidak beres’ terjadi dalam hubungan pertemanan atau individu yang menjalani hubungan pertemanan tersebut. Saya menjadi orang yang terlalu ‘pemikir’ dan ‘memikirkan’. Dan hal seperti itu sebenarnya sangat melelahkan bagi saya…

ron-har-herm

Ron, Harry, Hermione = sahabat sejati

Nah, saya tidak tahu apakah kedua hal ini berkaitan atau tidak. Tetapi di sisi lain, saya juga cenderung sulit untuk menjalin hubungan pertemanan yang sudah terjalin dengan baik, terutama ketika jarak menjadi faktor yang menjadi penghalang. Contohnya saja, saya sebenarnya jarang menghubungi teman-teman yang berjauhan jarak dengan saya. Kadang agak malas dan telat membalas SMS, tidak terlalu sering menggunakan situs jejaring sosial untuk sekedar berbasa-basi, apalagi menelpon…

Sudah banyak yang mengeluhkan kemalasan saya itu, termasuk sahabat-sahabat saya. Saya juga seringkali merasa takjub terhadap diri saya sendiri. Apa sebenarnya yang menjadi penghambat saya? Berkaitan dengan isu ‘sensitif’ itu kah? Kalo ya, saya sebagai individunya kok agak kesulitan menemukan kaitannya?

Saya menjadi terkesan sombong-lah, jahat-lah. Padahal tidak ada hubungannya dengan hal-hal itu. Saya justru diam-diam memperhatikan masing-masing teman-teman saya lewat akun-akun jejaring sosial mereka. Merasa kesepian dan terisolasi sendiri, dan diam-diam iri melihat kedekatan mereka dengan teman-teman yang lain. Saya curiga… jangan-jangan saya mengidap penyakit psikologis yang belum diketahui apa namanya. Hihihi…

Ah, sudahlah. Toh saya juga tidak benar-benar kehilangan mereka. Kadang-kadang kelakuan saya juga tidak sampai separah itu kok. Bukan berarti saya benar-benar mengisolasi diri saya. Dan selain itu, sebenarnya bagi saya sebenarnya hubungan pertemanan itu adalah kenangan dan perasaan. Ketika di dalam hati saya saya masih mengenang mereka sebagai teman-teman yang saya sayangi, maka kami masih bersahabat… Begitulah…

What a total trash….

Apakah Bella sedang dalam masalah besar karena mencintai dua laki-laki pada waktu yang sama?

bella

mouth-half-open

Bella, apa kau punya masalah?

Ya, saya sering mendapat sial. Jatuh cinta pada vampir, lalu manusia serigala. Saya juga berkali-kali hampir mati karena ada vampir maniak mengejar saya. Yang paling sial adalah: saya ternyata sangat ingin menjadi vampir!!!

Bella, kamu memang dalam masalah. Tapi ada beberapa hal yang kamu buat-buat sendiri menjadi masalah. Kamu pikir kamu cinta Edward dan Jacob? Kamu-salah. Kamu terobsesi pada Edward dan kamu terlalu egois untuk melepaskan Jacob karena kamu terlalu melodramatis dan mendramatisasi situasi dengan berlebihan.

Kamu bilang kamu jatuh cinta setengah mati dengan Edward, tapi dengan pembelaan diri yang sangat tangguh kamu tiba-tiba seoalah tersadar: “ternyata aku juga cinta Jacob!”. Darimana kamu tahu kamu cinta Jacob? Dan bagaimana? Dan kenapa kamu tidak menyadarinya dari dulu, dan baru sadar sekarang? Apakah kamu ingin bilang karena Jacob selalu bersama-sama denganmu dan melindungimu?

Maaf Bella, tapi kamu klise sekali. Dan bisa-bisanya kamu akhirnya mengakui perasaanmu pada Jacob. Egois sekali… Kamu tidak benar-benar mencintai Jacob. Tidak mungkin hal itu bisa terjadi ketika seperti yang kamu bilang berulang-ulang, hatimu sudah kosong dan hancur karena Edward sudah merampas segalanya dari kamu dengan kepergiannya. Kamu berlebihan, Bella. Lalu kamu seolah-olah berada di neraka akan situasi ini. Mencintai dua laki-laki. Keduanya sama-sama istimewa… Wah, wah, wah… Atau jangan-jangan kamu tidak sungguh-sungguh mencintai Edward? Tapi kamu kan hampir mati karena dia ya? Jadi tidak mungkin kamu tidak benar-benar cinta dia…

Bagaimana mungkin kamu bisa bingung, Bella… Kamu membingung-bingungkan diri kamu sendiri. Semua orang juga tahu bahwa Edward-lah yang akan kamu pilih. Jadi kenapa harus memberi harapan pada Jacob?

Dasar Bella goblok…

jac-bel-edw

blah blah blah